Bangsa yang Berbudi, dengan Berantas Prostitusi

Prostitusi merupakan fenomena yang sudah ada sejak lama di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Prostitusi di Indonesia bermula sejak zaman kerajaan-kerajaan Jawa yang menggunakan wanita sebagai bagian dari komoditas sistem feodal. Fenomena prostitusi hingga saat ini masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Prositusi menjadi salah satu penyakit dalam masyarakat, akan tetapi pada kenyataannya prostitusi dijadikan sebagai mata pencaharian  bagi beberapa pihak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah satu faktor penyebab terjadinya hal tersebut ialah adanya keinginan untuk memperoleh penghasilan secara instan, sehingga menyebabkan sebagian orang lebih memilih untuk terjun ke dunia prostitusi, dimana mayoritas adalah kalangan remaja. Sungguh miris!!!

Sebagai jawaban atas persoalan di atas, kegiatan Dialog Multikulktural 2019 dengan tema “Menakar Prostitusi dalam Perspektif Agama, Moral, dan Kesehatan” diselenggarakan pada hari Rabu, tepatnya tanggal 20 Maret 2019 yang bertempat di Aula Ki Hadjar Dewantara Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Tema tersebut diangkat untuk memberikan informasi serta pemahaman yang komprehensif terkait prostitusi yang dilihat dari sudut pandang agama, moral, dan kesehatan. Kegiatan ini terdiri dari serangkaian acara yang diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan acara oleh Dr. I Nyoman Ruja S.U. selaku Wakil Dekan III FIS UM.

Kegiatan Dialog Multikultural ini diikuti oleh 4 delegasi yang masing-masing beranggotakan 3 orang. Delegasi pertama, berasal dari Bidang Kegiatan Terpadu (BKT) Kerohanian FIS UM yang diwakili oleh Cristy Dayanti Sinaga, Khusnul Khotimah, dan Michael Aprilino Fernandes. Delegasi kedua, berasal dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Kesehatan Masyarakat FIK UM yang diwakili oleh Isranalita Madelif Sihombing, Jayanto Dhanuputra, dan Yogi Fachrizal. Delegasi ketiga, berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pendidikan Psikologi UM yang diwakili oleh Angeline Putri Ajeng Dewanto, Aulia Maghfiraa, dan Annisa Mukti Ningrum. Delegasi keempat, berasal dari mahasiswa jurusan Hukum dan Kewarganegaraan FIS UM yang diwakili oleh Lilya Windi Pramesti, Satriyo Ichrom Anggoro, dan Nur Alfian Sasmito Putra. Dialog dipandu oleh Bapak Meidi Saputra, M.Pd. selaku moderator.

Kemudian di penghujung acara dilakukan Pembacaan dan Penandatangan Piagam Deklarasi Komitmen Bersama, yang berisi janji untuk berketuhanan Yang Maha Esa, mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI 1945, menjaga keutuhan NKRI dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, mengawal segala bentuk usaha perlindungan dan persamaan hak manusia tanpa adanya diskriminasi, serta berkomitmen untuk selalu menjaga dan melindungi korban prostitusi.

Akhir kata, semua perilaku tentu memiliki efek di belakangnya, entah itu efek positif atau negatif. Begitu pula dengan prostitusi, karena prostitusi merupakan perilaku yang menyimpang dari norma masyarakat dan agama, maka prostitusi hanya akan mengakibatkan efek negatif diantaranya, menimbulkan dan menyebarluaskan penyakit kelamin dan kulit; memberikan pengaruh demoralisasi kepada lingkungan sekitar, khususnya kalangan remaja atau bahkan anak-anak; serta merusak sendi-sendi moral, susila, hukum, dan agama karena di dalam prostitusi secara tidak langsung terdapat praktik pengeksploitasian manusia.

 

Perubahan adalah Takdir Politik bagi Mereka yang Berani Berpikir

Alfan Bramantya, Via Azis Riyaya, dan Elita Elidayanti sukses menjuarai kompetisi Debat Konstitusi 2019. Kegiatan yang sekaligus sebagai program kerja perdana Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan (HMJ HKn) Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang periode 2019 ini telah mampu menjadi wadah bagi kaum akademik khususnya mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan dalam menyampaikan segala aspirasi terkait polemik yang tengah dihadapi dalam kehidupan perpolitikan di Indonesia. Sejalan dengan tema yang diangkat, “Perubahan adalah Takdir Politik bagi Mereka yang Berani Berpikir”, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk menyalurkan pemikiran-pemikiran kritis dan analitis terkait isu-isu politik yang sedang hangat diperbincangkan khalayak ramai, guna menyongsong perubahan yang selama ini masih menjadi harapan untuk direalisasikan.

Kegiatan debat berlangsung cukup sengit, ketika para peserta saling beradu argumen satu sama lain. Telah disediakan beberapa topik atau mosi sebagai bahan untuk diperdebatkan diantaranya UU ITE, Dibalik Batalnya Pembebasan Bersyarat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Eks Koruptor menjadi Caleg, RUU Permusikan, Anggota DPD Bebas dari Partai Politik, Larangan Kampanye dalam Kampus, Presidential Treshold 20%, dan Bandar Narkoba Dihukum Mati.

Terdapat 8 tim yang menjadi peserta dalam Debat Konstitusi yang dilaksanakan pada 28 Februari 2019 ini. Setiap sesi terdapat 2 tim yang bertanding, yaitu tim Pro dan Kontra, yang mana setiap tim terdiri dari 3 orang pembicara. Pembicara pertama, bertugas memberikan argumen pembuka. Pembicara kedua, bertugas memperkuat argumen. Pembicara ketiga, bertugas memberikan argumen penutup. Selama debat berlangsung, tim lawan dapat mengajukan interupsi dengan batas maksimal 3 kali interupsi. Sedangkan tim yang sedang menyampaikan argumen dapat menerima atau menolak interupsi yang diajukan tim lawan dengan batas maksimal 2 kali tolakan.

Juri dari kegiatan debat ini adalah dosen Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan FIS UM, yaitu Desinta Dwi Rapita, S.Pd., S.H., M.H.; Abd. Mu’id Aris Shofa, S.Pd., M.Sc.; dan Meidi Saputra, M.Pd. Kriteria penilaian didasarkan pada 3 aspek, yaitu Matter, Manner, dan Method. Matter, berkaitan dengan substansi debat, berupa dasar-dasar dari argumen disertai dengan bukti-bukti yang disajikan. Manner, berkaitan dengan model atau gaya penyampaian dan tindakan peserta selama berpidato. Method, berkaitan dengan kesesuaian antara prinsip-prinsip dalam debat.

Kegiatan ini dinilai sangat penting karena dapat memberikan banyak manfaat, terutama bagi mahasiswa sebagai Agen of Change, pelopor perubahan bangsa Indonesia menuju arah yang lebih baik. Sebagaimana dijelaskan oleh Shinta Dewi selaku Ketua Pelaksana Debat Konstitusi 2019, “Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir sekaligus menjadi forum diskusi bagi mahasiswa Hukum dan Kewarganegaraan khususnya”.

Merajut Kebersamaan, Meraih Kekeluargaan

Kebersamaan adalah permulaan. Menjaga bersama adalah kemajuan. Bekerja bersama adalah keberhasilan.” – Henry Ford

Halo sobat! Kesempatan kali ini mimin akan berbagi cerita nih tentang salah satu pengalaman yang paling mengesankan. Kemarin mulai tanggal 2 s/d 3 Februari 2019 ada kegiatan KBP loh. Nah, tau nggak sih apa itu KBP? Jadi, KBP atau Kemah Bakti Pengurus merupakan sebuah kegiatan rutin yang diselenggarakan dari, oleh, dan untuk kabinet baru Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang (UM). KBP HMJ HKn periode 2019 ini mengangkat tema “Merangkul keakraban, mempererat solidaritas, mewujudkan kekeluargaan”. Sesuai dengan temanya, tujuan dari kegiatan ini ialah untuk menumbuhkan rasa kebersamaan antar anggota baru yang pastinya belum saling mengenal satu sama lain. Pada dasarnya selalu bersama belum tentu memiliki rasa kebersamaan, karena rasa kebersamaan akan tumbuh ketika beberapa orang telah dihadapkan pada kondisi yang sama dengan beban yang sama pula. Adanya rasa kebersamaan akan membuat sebuah organisasi menjadi satu-kesatuan yang solid ketika menghadapi suatu permasalahan. Itu tadi sekilas tentang gambaran umum dan tujuan dari KBP. Selanjutnya yang paling ditunggu-tunggu, apa aja sih yang dilakukan selama kegiatan KBP? Simak terus yaa..

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari satu malam di Bumi Perkemahan Bedengan, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Singkat cerita, pada hari Sabtu tanggal 2 Februari 2019 mimin dan anggota yang lain berangkat dari UM pukul 08.00 WIB menuju lokasi perkemahan dengan mengendarai sebuah truk. Sepanjang perjalanan kami dibuat terpukau oleh pemandangan yang sangat mempesona. Bagaimana tidak, jalan yang kami lewati dikelilingi oleh kebun jeruk yang terlihat asri serta sesekali terlihat barisan bukit yang tidak kalah cantik untuk dipandang.

Sesampainya di lokasi perkemahan, kami langsung bergegas mendirikan tenda untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu turun hujan karena cuaca pada hari itu sangat tidak menentu. Selama proses pendirian tenda, kami mengalami kesulitan karena mayoritas anggota tidak tahu bagaimana cara mendirikan tenda yang benar. Akan tetapi itu tidak menjadi sebuah masalah, berkat adanya kekompakan dan kerjasama tim akhirnya kami berhasil mendirikan tenda yang cukup kokoh.

Acara selanjutnya yaitu upacara pembukaan yang diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan sambutan ketua panitia, Yungki Susanto, yang sekaligus secara resmi membuka kegiatan Kemah Bakti Pengurus HMJ HKn 2019. Upacara diakhiri dengan pembacaan doa, agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar tanpa ada halangan sesuatu apapun.

Tiba waktu ISHOMA, kami dihimbau agar segera makan siang dengan bekal yang kami bawa sebelumnya sekaligus melaksanakan ibadah sholat bagi yang menunaikan. Kurang lebih pukul 13.00 WIB, kami berkumpul untuk mendengarkan pemaparan materi dari para demisioner. Materi pertama tentang Public Speaking, dilanjutkan materi tentang Loyalitas, materi Kepemimpinan, dan yang terakhir materi tentang Organisasi. Keempat materi tersebut tentu dapat dijadikan sebagai bekal bagi kami sebelum melangkah lebih lanjut menuju program kerja yang telah disusun sebelumnya. Oops.. ada yang kelewatan nih sobat. Ceritanya di tengah-tengah penyampaian materi hujan turun sangat amat deras sekali. Alhasil tenda yang kami tempati selama penyampaian materi digenangi oleh air. Tapi memang benar selalu tersimpan pelajaran dibalik sebuah kejadian, dimana kami diajarkan untuk saling bahu-membahu membersihkan genangan air tersebut agar kegiatan dapat terus berlanjut.

Materi secara keseluruhan telah disampaikan, tiba waktunya bagi kami untuk beristirahat setelah lelah seharian beraktivitas. Tapi ternyata ketika sudah tertidur pulas, kami mendapat surprise dari panitia yang tidak disangka-sangka. Kami dibangunkan satu per satu secara bergiliran untuk melakukan jelajah malam, dan dengan keadaan setengah sadar serta tubuh yang menggigil akibat dingin yang tak tertahankan kami harus melewati beberapa pos yang dijaga oleh para demisioner yang siap melontarkan berbagai macam pertanyaan kepada kami.

Tidak terasa sang mentari telah bersiap menampakkan sinarnya di ufuk timur. Sampailah pada puncak dari kegiatan KBP yaitu pengukuhan pengurus HMJ HKn periode 2019 yang dilakukan dengan pembacaan ikrar secara bersama-sama di tengah derasnya aliran sungai. Hal ini memiliki makna bahwa organisasi ibarat sebuah perahu dengan arus sungai dimaknai sebagai dinamika yang akan dihadapi selama berorganisasi. Tersimpan harapan besar agar selama satu tahun ke depan HMJ HKn 2019 akan selalu kompak dan mampu bertahan sebagai satu-kesatuan untuk mencapai target yang telah menjadi tujuan bersama.

Mungkin itu dulu yang bisa mimin bagi ke sobat semua. Tunggu cerita kami selanjutnya yaa..

HMJ HKn… Merdeka!!!

Pelantikan Pengurus Ormawa FIS UM 2019

Reorganization atau reorganisasi menjadi salah satu agenda rutin bagi setiap Organisasi Mahasiswa (Ormawa) sebagai perwujudan demokrasi di lingkungan kampus yang berlandaskan Pancasila tentunya. Tidak terkecuali dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan (HMJ HKn) Universitas Negeri Malang atau yang dikenal dengan nama Merah Putih.

Berdasarkan perolehan suara pada Pemilu Raya UM 2018, telah terpilih pasangan ketua dan wakil ketua HMJ HKn periode 2019, yaitu Yungki Susanto sebagai ketua dengan wakilnya Satriyo Ichrom Anggoro dengan visi mewujudkan HMJ HKn yang aspiratif, kreatif, inovatif, dan etos kerja tinggi dalam menjalankan tugasnya sesuai Tridarma perguruan tinggi dengan berlandaskan Pancasila, serta misi mewujudkan sistem kerja organisasi yang profesional, transparan, integritas tinggi dengan karakter building, memfasilitasi minat dan bakat mahasiswa HKn bidang akademik dan non akademik, dan meningkatkan peran aktif mahasiswa HKn dalam membangun toleransi dan kepekaan dalam masyarakat dengan pemberdayaan masyarakat. Agenda selanjutnya yaitu rekrutmen anggota dengan proses yang cukup panjang, mulai dari pendaftaran sekaligus pengumpulan berkas persyaratan, tes wawancara, hingga pada akhirnya melalui berbagai pertimbangan terbentuklah Kabinet Cakrawala Muda.

Sampailah pada titik puncak dari proses reorganisasi, yaitu pelantikan. Bertempat di Aula Ki Hajar Dewantara Fakultas Ilmu Sosial (FIS), tepatnya pada tanggal 29 Januari 2019 yang jatuh pada hari Selasa, telah diselenggarakan acara pelantikan pengurus baru seluruh Ormawa FIS periode 2019. Acara dimulai tepat pada pukul 08.00 WIB, yang dihadiri oleh para civitas akademik FIS, diantaranya Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd. selaku Dekan, Dr. I Nyoman Ruja, S.U. selaku Wakil Dekan III, pembina dan pendamping organisasi mulai dari Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), HMJ HKn, HMJ Geografi, HMJ Sejarah, HMJ Sosiologi, serta HMPS1 IPS.

Proses pelantikan dibuka dengan bacaan basmalah secara bersama-sama, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne dan Mars UM. Kemudian pembacaan Surat Keputusan Dekan oleh Wakil Dekan III, pembacaan Kata-Kata Pelantikan oleh Dekan, serta pembacaan Janji Pengurus Ormawa yang dipimpin oleh Ketua DMF, yang diikuti oleh seluruh pengurus Ormawa. Memasuki acara inti yaitu penandatanganan Berita Acara Serah Terima Jabatan Ketua Ormawa 2018 kepada Ketua Ormawa 2019.

Berikutnya yaitu sambutan yang sekaligus sebagai penutup acara, yang mana dalam hal ini kesempatan diberikan kepada Dekan FIS, Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., untuk memberikan sepatah dua patah kata kepada seluruh pengurus Ormawa yang telah dilantik. Selain memberikan dukungan serta motivasi, beliau juga berpesan agar seluruh pengurus Ormawa untuk terus menciptakan dan mengembangkan kreativitas baik dalam bidang akademik maupun non akademik.

Akhir kata, semoga dengan terbentuknya pengurus baru ini dapat memberikan energi yang baru pula untuk terus mengembangkan potensi yang dimiliki oleh seluruh mahasiswa khususnya mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan melalui realisasi visi dan misi yang telah disusun sebelumnya.